health

business

vehicles

technology

Mati Sebelum Mati

Malam kubiarkan tergeletak. Sakau. Sarafku masih mengejang. Meneror retina untuk tak lagi berfungsi. Pelupuk hampir terhenti. Semuanya Gelap gulita. Sepi. Sendiri. Menjelma menjadi bagian utuh dari nista. Hina. Tak berdaya. Ditambah lambung yang terus meraung. Seonggok nasi tak cukup buat laparku lenyap. Mineral sore tadi, pun juga tinggal setengah karat. Nafas kuarahkan teratur, namun paru-paru kian sulit diatur.
Memberontak. Suruh otot belajar membantah otak. Kucongkel mataku sendiri. Tertatih-tatih. Jangan terlelap dahulu. Karena pesuruh-Nya mungkin kan datang sesaat lagi.
Melirik tajam kearah kanan. Terlihat kerah sempurna memerah. Pergelangan lengan, slangkangan, dan sekujur badan mnjerit khabisan darah. Kusahakan mata mlotot tajam, meroket keatas. Tertancap di bintang. Bintang-gmintang ketakutan. Rembulan iba, menjerit pula kebingan. Pasrah. Mataku tak kunjung bisa memerah padahal raga sudah tak mampu mengungkung amarah. Ini semua karena salahnya. Senyumanya ganas lucuti diriku semakin lemas. Angin dingin mengendus ganas. Perlahan membelai. Namun lebih sering menikam. Mrobek kulit punggung menembus jantung. 
Aku mati sebelum mati. Semoga hidup sebelum dimatikan.

Tidak ada komentar: